• Fakultas Hukum Kembali Mengadakan Seminar Nasional

    Fakultas Hukum Kembali Mengadakan Seminar Nasional

    29 September 2017 Safrizal

    Langsa. Fakultas Hukum Universitas Sains Cut Nyak dhien Langsa, bekerjasama dengan Universitas Medan Area, Majelis Permusyarawatan Ulama Propinsi Aceh, dan POLRES Langsa mengadakan Seminar Nasional yang kali ini membahas tema “menangkal Terorisme dan Radikalisme Di Indonesia”. Hadir sebagai narasumber kali ini adalah Dr. Aulia Rosa Nasution, SH, M.Hum. yang merupakan praktisi hukum nasional dan internasional serta menekuni penelitian mengenai terorisme semenjak tahun 2004 sampai dengan sekarang. Narasumber berikutnya adalah Al-Ustad Muhammad Tabri, Lc. yang merupakan anggota MPU Aceh serta giat memantau perkembangan terorisme dari perspektif kajian Islam. Sedangkan narasumber terakhir dari Aparatur Negara adalah IPDA Ade Candra yang bertugas dalam KBO SAT INTERKAM PORLES Langsa. Adapun yang Bertindak sebagai moderator kali ini Dekan Fakultas Hukum US CND Yaitu Zulham Wahyudani, SHI, M.A, MSh.

    Acara Seminar nasional ini diadakan pada tanggal 9 september 2017 di Aula Lantai 3 US CND Acara ini mendapat respon yang sangat baik dan cukup mengejutkan,  hal ini terlihat dari jumlah peserta yang memludak di luar perkiraan panitia. Peserta ini mengikuti acara ini adalah para dosen, mahasiswa, pakar hukum dan masyarakat umum yang total berjumlah 210 orang memadati aula tersebut.  

    Acara dimulai pada jam 09.00 Wib. Diawali dengan pembukaan secara resmi seminar oleh Dekan Fakultas Hukum selaku moderator acara. Dekan fakultas Hukum mengatakan bahwa seminar nasional ini merupakan seminar ke dua yang diadakan oleh fakultas hukum. Adapun seminar pertama pada tahun 2015 telah mengadakan seminar nasional dengan tema alternatif penyelesaian masalah anak yang berhadapan dengan Hukum.  Dan beliau diakhir pembukaan berharap di tahun depan fakultas hukum akan dapat mengadakan seminar internasional.

    Acara seminar dilanjutkan dengan paparan dari narasumber utama oleh Dr. Aulia Rosa Nasution, SH, M. Hum, yang menyampaikan bahwa terorisme bertujuan untuk menakut-nakuti objek sasaran yang berawal dari abad ke-18. Adapun ciri-ciri terorisme adalah pertama, menghilangkan nyawa serta melakukan kekerasan terhadap masyarakat. Kedua, menghancurkan sarana dan fasilitas Negara. Ketiga, menjadikan agama sebagai pembenaran terorisme. Keempat, dilakukan dengan cara sistematis dan terencana. Kelima, dilakukan pada kondisi damai dan perang. Adapun sanksi hukum berdasarkan UU. No. 15 tahun 2003 tentang pemberantasan tindak pidana terorisme, teroris akan dipenjara minimal 4 tahun dan maksimal 20 tahun.

    Pemateri ke-dua memaparkan terorisme dari perspektif kajian Islam. Ust Muhammad Tabri, Lc menjelaskan bahwa terror berasal dari bahasa Arab “irhab” yang artinya menimbulkan rasa takut. Hal yang paling utama beliau tekankan dan luruskan adalah islam tidak mengenal bunuh membunuh yang sifatnya asal-asalan dan membabi buta. Adapun sejarah bibit awal terorisme dalam islam terjadi pada zaman rasulullah yaitu pada masa khalifah Ali bin Abi Talib oleh kaum Khawarij yang mengirim “pengantin” untuk membunuh Ali bin Abi Talib. Diakhir paparanya beliau menjelaskan bahwa penyebab terorisme adalah kebodohan ilmu agama atau kebodohan terhadap al-Quran dan hadist sehingga terjadilah terorisme dalam arti kebencian karena gagal paham.

    Selanjutnya pembicara ke-tiga IPDA Ade Candra memaparkan terorisme dari segi perspektif kepolisian. Pak Ade Candra memaparkan bahwa paham radikal yakni maupun gerakan perubahan yang mengakar atau mendasar. Perkembangan pemikiran radikal yang sering dibarengi oleh oknum-oknum anarkis dan vandalisme. Gerakan oknum-oknum ini memiliki ciri-ciri radikalisme seperti kebenaran tunggal, cenderung mempersulit agama, mengalami overdosis agama dan mudah mengkafirkan orang lain yang penyebarannya melalui pendidikan, pengajian, dakwah, media sosial dan lain-lain 

    Seminar ini membahas suatu permasalahan serta solusi yang berkaitan dengan kepedulian rahyat terhadap ancaman terorisme dan radikalisme di Indonesia. Para pembicara sepakat mengajak para audience untuk mencegah munculnya terorisme dan radikalisme dari kampus dengan harapan bahwa mahasiswa ini adalah bagian dari masa depan bangsa Indonesia. dan di akhir seminar moderator berharap dengan adanya seminar ini lebih peduli dan sadar akan pentingnya pemahaman terhadap ajaran Islam, hukum nasional dan Hak Asasi Manusia agar permasalahan ini tidak terulang lagi seperti hancurnya gedung WTS, Bom Bali, Bom JW Mariot hingga tragedi pembantainya Etnis Rohingya.  

     

KOMENTAR